Kenapa Illfeel Sama Linux?
Ditulis oleh Hanif dalam Ulas — [23] KomentarKarana maraknya postingan tentang linux dari para blogger lain, saya juga pingin nulis tentang Lunux
Tapi sebelumnya, mari kita simak beberapa pertanyaan yang paling sering dilontarkan user yang baru saja menjajal Linux.
- Mana nih drive C-nya?
- Koq passwordnya ditanyain lagi?
- Udah Linux nih, terus mau diapain yah?
Yah,,, dulu saya juga sama bingung mau diapain si Tux imut ini, tapi sekarang udah biasa tuh. Memang sih saya tidak 100% Linux, soalnya mata kuliah yang saya ambil masih bermain-main dengan windows juga. Jadi saya install dual OS di komputer saya. Tetapi kalau dilihat dari perkembangannya, saya kagum sama Linux karena memang cepat sekali. Lihat saja Ubuntu contohnya, setiap 6 bulan sekali rilis versi baru, sampai-sampai saya sudah bisa meramalkan habis versi 8.04 ini pasti muncul 8.10, kemudian 9.04 setelah itu 9.10 ** ya iya lah… udah basi kalee
**.
Dua Kelemahan
Mungkin ini yang membuat user pemeluk agama windows illfeel sama Linux. Yang pertama adalah command line, yang kedua adalah game.
Bayang-bayang linux adalah command line memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena memang dengan GUI/X-windows sekalipun linux tetap tidak bisa lepas dari command line. Contoh saja ketika ingin menginstall program tambahan, harus buka terminal root dulu, password lagi password lagi, kemudian mulai mengetikkan perintah-perintahnya mulai dari “./configure” sampai “./install”, belum lagi kalau installasinya gagal karena paket dependency yang lain belum di pasang. Wah, kalau buat orang awam emang nyebelin banget tuh
tapi disini intinya adalah terbiasa. Kalau mau belajar, lama-lama akan lancar sendiri
Yang kedua adalah game. Tentu saja Linux menjadi sosok yang menakutkan buat para gamer **untung saja saya bukan maniak game
**. Untuk masalah yang satu ini, kita hanya bisa berharap pada kesempurnaan project wine. Sekarang ini beberapa aplikasi dan game untuk Microsoft Windows sudah bisa dijalankan di Linux dengan wine ini. Lihat saja gambar dibawah, saya menjalankan Adobe Photoshop 7 di atas Linux Debian 4.
Berawal dari Sini…
Ini adalah pengalaman pertama saya ketika coba-coba Linux. Waktu itu saya masih kelas 3 SMP, coba install Linux di komputer (waktu itu masih pake Pentium 2 dengan harddisk 10Giga). Berbekal install ulang windows beberapa kali, saya mau coba install Linux (waktu itu nama distronya masih mandrake), tetapi setelah Linux di-install, yang terjadi malah semua data di harddisk hilang tak bersisa
**shock…** . Untung itu data punya saya semua, coba kalau ada dokumen punya ayah, bisa kena
sama ayah.
Merasa peristiwa hilangnya semua data di dalam komputer adalah suatu kebetulan, saya coba yang kedua kalinya. Tapi ternyata saya baru sadar kalau itu bukan kebetulan ** hi.. hi.. jadi malu sendiri
**. Dan kali ini bukan hanya data saya yang hilang, MBR harddisk saya pun juga ikut kena. Akhirnya saya serahkan sama ahlinya buat di benahi.
Jalan-jalan ke Distro Linux
Lho, emang dimana distro Linux? He… he… ungkapa di atas sebenarnya bermakna ganda, soalnya distro diatas artinya bukan sebuah tempat seperti distro pakaian (distribution store) tapi dapat diartikan sebagai jenis Linux/Linux distribution.
Karena hobi coba-coba yang baru, setiap keluar distro Linux anyar saya buruan coba. Kalau dihitung-hitung udah sekitar 8 kali yah…
Mulai dari Mandrake (Linux pertama yang buat data saya destroyed), kemudian dengan RedHat, Slackware (Linux di kampus nih…), Suse (Paling gampang menurut saya) dan Knoppix (Walaupun cobain Live CD-nya doank :p).
Udah kenalan juga sama Mr. Sudo alias Ubuntu (Saya sebut Mr Sudo lantaran waktu itu pusing gimana cara login sebagai root
), dengan OS-nya Google yaitu gOS (Mac banget, saya suka animasi dan tampilannya) dan sekarang yang saya pakai adalah Bapaknya Ubuntu dan Kakeknya gOS alias Debian 4
Emang tampilannya agak jadul sih (tapi ngga jadul-jadul amat lho… ) kalau dibanding Ubuntu dan gOS, tapi jangan salah, kalau ngga ada Debian, Ubuntu sama gOS ngga akan Lahir Lho
Ada beberapa screenshot desktopnya di bawah… *) Click to enlarge
(Ngga jadul-jadul amat kan? :p)
Oh iya, berkaitan sama hobi saya yang suka coba-coba distro Linux baru, saya udah install VMware di atas Debian 4, cara instalasinya di Linux Debian dapat dilihat di sini. Bagi yang suka incip-incip Linux ** halah…
** dan tidak mau repot buat partisi baru buat Linux baru, bisa pakai VM juga seperti saya
Artikel ini ditulis pada tanggal 28-06-08 pukul 23:43. Baca selengkapnya untuk dapat meninggalkan komentar untuk tulisan ini...











